PENGARUH KEMITRAAN USAHA TERHADAP KINERJA USAHA PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) DAN KOPERASI DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN

Tulisan 4 : Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

REVIEW :

PENGARUH KEMITRAAN USAHA TERHADAP KINERJA USAHA PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) DAN KOPERASI DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN

 

Oleh :

Saparuddin M.

Basri Bado

Econosains – Volume IX, Nomor 2, Agustus 2011

Berisi :

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengujian Sub Hipotesis Penelitian Sub hipotesis yang akan diuji adalah Pengaruh kemitraan usaha yang mencakup 4 Sub variabel yakni : Akses Pemasaran, Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia, akses permodalan dan keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi berpengaruh terhadap kinerja usaha finansial dan kinerja usah non finansial.

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis jalur (path anlysis) maka pengujian keempat sub variabel tersebut dapat dirangkum pada Tabel berikut ini:

Dari hasil pengujian ke empat sub hipotesis seperti yang tampak pada Tabel di atas, maka dapat diinterpretasikan hasil pengujian variabel-variabel kemitraan usaha berpengaruh secara parsial terhadap kinerja usaha finansial dan kinerja usaha non finansial sebagai berikut:

Sub Hipotesis Pertama : Pengaruh Kemitraan usaha dalam aspek Akses Pemasaran (X1)) terhadap Kinerja usaha Finansial (Y1 ) dan Kinerja Usaha Non Finansial

 

Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa kemitraan usaha pada sub variabel Akses Pemasaran berpengaruh positif terhadap kinerja usaha finansial sebesar 0,2671atau 26,71%, dan berpengaruh positif terhadap kinerja usaha non finansial sebesar 0,2021 atau 20,21%. Hasil uji hipotes ternyata keduanya menunjukkan t hitung lebih besar dari ttabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima, dan ada pengaruh positif signifikan kemitraan usaha dalam aspek akses pemasaran terhadap kinerja usaha finansial dan kinerja usaha non finansial di Kabupaten Jeneponto.

Hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa akses pemasaran dari program kemitraan usaha memberikan peranan nyata terhadap peningkatan kinerja usaha pada usaha kecil menengah dan koperasi di kabupaten Jeneponto. Nilai positif dari analisis jalur tersebut bermakna bahwa semakin mudah usaha kecil menengah dan koperasi terakses ke pasar maka akan semakin dapat meningkatkan kinerja usahanya. Dari hasil pengujian hipotesis tersebut didukung oleh Kaplan dan Norton dalam Sotjipto (1997:21) yang mengemukakan bahwa untuk mengukur kinerja sebuah perusahaan ada beberapa aspek yang menjadi ukuran, salah satu aspeknya adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh pelanggan (customer) yang dilihat penguasaan pasar. Dalam penguasaan pangsa, maka perusahaan harus menyusun sebuah strategi untuk membangun akses pasar dan informasi pasar akan yang akan berdampak pada meningkatnya nilai tambah sebagai hasil akhir dari timbulnya transparansi mengenai jumlah, kualitas, harga dari produk yang dihasilkan. Upaya-upaya yang dilakukan untuk membangun akses pasar dalam kemitraan usaha menurut Hafsah (1999: 176) antara lain adalah :

1)      Pengembangan pasar internasional melalui promosi, lobby, penyebaran informasi, mengikuti expo, termasuk menjalin hubungan bermitra usaha dengan perusahaan distributor internasional.

2)      Pengembangan pasar domestik melalui temu koordinasi, temu usaha, promosi dan lainnya.

3)      Pengembangan informasi produk, database komoditi dagangan yang prosfektif dan jasingan pasar melalui penyebarluasan brosur, mengembangakan database komoditi yang dapat seluruh Indonesia dan internasional.

Sub Hipotesis 2 “Pengaruh Kemitraan usaha dalam aspek Pembinaan dan Pengembangan SDM terhadap Kinerja Usaha Finansial dan Non Finansial” Hasil Analisis koefisien jalur menunjukkan bahwa Aspek pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap terhadap kinerja finansial (Y1) sebesar = 0,30175 atau 30,17%, dan berpengaruh positif terhadap kinerja usaha non finansial sebesar 0,20912 atau 20,91%.

Hasil uji hipotes ternyata keduanya menunjukkan t hitung lebih besar dari ttabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima, dan ada pengaruh positif signifikan kemitraan usaha dalam aspek pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia signifikan berpengaruh terhadap kinerja usaha finansial dan kinerja usaha non finansial di Kabupaten Jeneponto.

Hal tersebut memberikan indikasi bahwa bahwa kemitraan usaha dalam aspek pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia memberikan peranan nyata terhadap peningkatan kinerja usaha pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto. Artinya semakin baik pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia pada usaha kecil menengah dan koperasi, semakin positif kinerja usaha bagi usaha kecil menengah dan koperasi, atau sebaliknya semakin kurang pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan melalui kemitraan usaha, maka akan semakin menurun kinerja usaha bagi usaha kecil menengah dan koperasi di kabupaten Jeneponto. Hal ini menujukkan bahwa peningkatan kinerja usaha bagi usaha kecil menengah dan koperasi sangat terkait dengan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusianya adalah melalui pendidikan dan pelatihan yang bebermitra usaha dengan perusahaan mitra (perusahaan besar). Dari temuan tersebut seiring dengan Marco Sumampow (1997: 20) yang menyatakan bahwa perkembangan bisnis atau kinerja suatu usaha tidak dapat dipsahkan dari perkembangan kualitas sumber daya manusianya. Perusahaan yang ingin meningkatkan kinerjanya harus mempunyai komitmen terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia. Hal ini berarti berarti investasi sumber daya manusia melalui pelatihan harus mendapatkan perioritas tinggi di perusahaan/organisasi agar pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sumber daya manusia tidak menjadi uasng (absolute).

Demikian juga dikemukakan oleh Adi Sasono (2001:12) yang menyatakan menyatakan bahwa sedikitnya terdapat 5 (lima) desain dan strategis yang harus ditempuh dalam penguatan dan peningkatan kinerja Usaha Kecil Menengah dan Koperasi, salah satunya adalah pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia yang dimilikinya. Keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kemitraan sangat ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusianya terutama dalam menerapkan strategi bisnis yang telah ditetapkan. Dengan kata lain keberhasilan kemitraan akan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku utama kemitraan. Kemampuan untuk menguasai teknologi, manajemen, informasi pasar dan lain sebagainya sangat berkaitan erat dengan faktor manusianya. Pilihan strategi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia bagi usaha kecil menengah dan koperasi merupakan alternatif terbaik dalam mengurangi kegagalan pelaksanaan kemitraan. Keberhasilan dalam menerapkan strategi ini akan berdampak langsung pada makin membaiknya kinerja bagi usaha kecil menengah dan koperasi. Oleh karena itu peningkatan kinerja usaha akan bermuara pada makin meningkatnya nilai tambah yang diperoleh usaha kecil menengah dan koperasi dalam melaksanakan kemitraan usaha dengan perusahaan besar. Hafsah (1999: 174) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan kemitraan usaha upaya-upaya yang dilakukan untuk dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia antara lain:

1)      Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan melalui perbaikan, penyesuaian kurikulum dan silabus, menata kelembagaan, penyediaan sarana prasarana yang cukup memadai dan peningkatan kualitas SDM tenaga pengajar serta meningkatkan manajemen pengelolaannya.

2)      Pengembangan lembaga inkubator dan magang dengan penerapan kurikulum terpadu yang aplikabel dan berada dalam dunia nyata usaha.

3)      Meningkatkan keterampilan dan kemampuan, tenaga penyuluh, pendamping, fasilitator melalui pelatihan khusus dan studi banding di berbagai wilayah.

Sub Hipotesis 3 “Pengaruh Kemitraan usaha dalam aspek Akses Permodalan terhadap Kinerja Usaha Finansial dan Non-Finansial” Nilai koefisien jalur kemitraan usaha dalam aspek akses permodalan (X3) berpengaruh positif terhadap kinerja usaha finansial (Y1) sebesar = 0,11136 atau sebesar 11,13% dan berpengaruh positif terhadap kinerja usaha non finansial (Y2) sebesar = 0,198 atau sebesar 19,8%. Hasil uji hipotes ternyata keduanya menunjukkan t hitung lebih besar dari ttabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima, dan ada pengaruh positif signifikan kemitraan usaha dalam aspek akses permodalan signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja usaha finansial dan kinerja usaha non finansial di Kabupaten Jeneponto.

Hal tersebut memberikan indikasi bahwa bahwa kemitraan usaha dalam aspek akses permodalan memberikan peranan nyata terhadap peningkatan kinerja usaha pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto. Artinya semakin mudah usaha kecil menengah dan koperasi terakses kepada sumber-sumber permodalan melalui kemitraan usaha, maka akan semakin cenderung meningkatkan kinerja usahanya. Sebaliknya semakin kurang terakses kepada sumber permodalan maka akan berdampak kepada menurunnya kinerja usaha usaha pada usaha kecil menengah dan koperasi di kabupaten Jeneponto.

Dari hasil pengujian hipotesis tersebut didukung oleh Endah Srinarni (1997:13) menyatakan bahwa salah satu ukuran kinerja bagi usaha kecil menengah dan koperasi adalah dilihat dari tingkat kemandirian permodalan yang dimilikinya. Demikian pula yang dikemukakan oleh Ristadi widodo (1999: 121) dari hasil penelitiannya yang mengemukakan bahwa salah satu upaya untuk dapat mempertahankan kinerja usaha bagi usaha kecil menengah dan koperasi (UKMK) adalah mempertahankan eksistensinya dalam upaya memperoleh sumber-sumber pembiayaan (modal usaha). Dengan demikian upaya tersebut hanya dapat dilakukan apabila perusahaan kecil menengah dan koperasi memiliki jaringan dan informasi luas tentang sumber-sumber pembiayaan (modal usaha). Sub Hipotesis 4 “Pengaruh Kemitraan usaha dalam aspek Keterkaitan Manajemen Pengelolaan Usaha dan Organisasi Terhadap Kinerja Usaha Finansial dan Non-Finansial” Dari hasil analisis jalur menunjukkan bahwa aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi (X4) berpengaruh positif sebesar = 0,14986 atau 14,98% dan hasil uji hipotesis ternyata menunjukkan bahwa thitung lebih kecil daripada ttabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima, ternyata tidak ada pengaruh yang positif dari aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha terhadap kinerja usaha finansial pada usaha kecil menengah dan koperasi di kabupaten Jeneponto. Hasil analisis jalur tersebut mengindikasikan bahwa aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi tidak memberikan peranan yang nyata terhadap perubahan kinerja usaha finansial pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto, akan tetapi nilai positif dari analisis jalur bermakna bahwa semakin baik hubungan keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi, maka akan semakin berpengaruh terhadap peningkatan kinerja usaha finansial pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto.

Hasil analisis jalur juga tampak bahwa aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha berpengaruh positif sebesar 0,34171 atau sebesar 34,17% terhadap kinerja usaha non finansial, hasil uji hipotesis menunjukkan t hitung lebih besar dari ttabel, berarti H0 ditolak dan H1 diterima, dan ada pengaruh positif signifikan kemitraan usaha dalam aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi terhadap kinerja usaha non finansial di Kabupaten Jeneponto. Hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa adanya aspek keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi dapat memberikan peranan yang nyata terhadap kinerja usaha non finansial, artinya semakin baik keterkaitan manajemen usaha dan organisasi yang terjalin dalam kemitraan usaha akan semakin meningkatkan kinerja usaha non-finansial, sebaliknya semakin kurang keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi akan semakin menurunkan kinerja usaha non-finansial pada usaha kecil menengah dan koperasi di kabupaten Jeneponto. Dari hasil pengujian hipotesis didukung oleh Kaplan dan Norton (1996:28) yang mengemukakan bahwa salah satu ukuran kinerja sebuah perusahaan dilihat dari perspektif proses belajar dan pertumbuhan yang dilihat dari tiga faktor yakni manusia, sistem dan prosedur organisasi.

Demikian juga Hafsah (1999:41) yang mengatakan bahwa kemitraan usaha dalam kaitannya dengan adanya keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan oleh usaha kecil menengah dan koperasi. Dengan melakukan kemitraan usaha maka usaha kecil menengah dan koperasi dapat secara langsung maupun tidak langsung mempelajari taktik atau strategi berbagai sektor bisnis yang dapat dikembangkan bersama dengan perusahaan mitra. Hal tersebut dapat menambah pengalaman dan keterampilan manajemen pengelolaan usaha dalam waktu singkat termasuk dalam hal penguatan kelembagaan dalam hal ini organisasi usaha kecil menengah dan koperasi. Berdasarkan rangkuman hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa peningkatan kinerja usaha finansial dan kinerja usaha non finansial pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto di pengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya bermitra usaha dalam bentuk bermitra usaha dengan perusahaan besar dan lembaga-lembaga ekonomi dan non ekonomi lainnya. Bermitra usaha dalam bentuk bermitra usaha tersebut dapat membantu usaha kecil menengah dan koperasi dalam aspek kemudahan untuk dapat terakses ke pasaran, adanya bermitra usaha dalam pembinaan dan pengembangan potensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh usaha kecil dan koperasi, serta adanya kemudahan untuk dapat terakses kepada sumber-sumber permodalan. Untuk memperjelas koefisien korelasi dan hasil analisis jalur masing variabel kemitraan usaha terhadap kinerja usaha, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Variabel Kemitraan usaha terhadap Kinerja usaha Finansial dan Kinerja usaha non finansial 1) Pengaruh Langsung dan tidak langsung Variabel Xi terhadap Y1

Pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung masing-masing variabel kemitraan usaha (X1…X4) terhadap kinerja usaha finansial (Y1) pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto dapat di lihat pada tabel 4.18 berikut ini:

Jika dilihat pada tabel di atas, tampak bahwa X2 (Pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia) memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja usaha finansial cukup berarti yakni sebesar 9,11%, dengan pengaruh tidak langsung melalui X1= 4,378%, X3= 1,607%, X4= 2,155% maka variabel Pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia (X2) mencapai total pengaruh sebesar 17,25%, merupakan variabel yang paling besar tetapi bukanlah variabel yang mendominasi mempengaruhi kinerja usaha finansial. Hal ini berarti bahwa kinerja usaha finansial bagi usaha kecil menengah dan koperasi lebih besar dipengaruhi oleh aspek pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia, fakta ini didukung oleh pernyataan Marco Sumampow (1997:20) bahwa perkembangan bisnis atau usaha tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kualitas sumber daya manusia. Demikian juga Dale Timpe (1997:55) mengemukakan bahwa untuk memperbaiki kinerja, diperlukan tujuah asumsi, salah satunya adalah perbaikan-perbaikan produktivitas yang paling signifikan dari tindakan-tindakan yang diarahkan ke orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut. 2) Pengaruh Langsung dan tidak langsung Variabel Xi terhadap Y2

Pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung masing-masing variabel kemitrauahaan (X1…X4) terhadap kinerja usaha non finansial (Y1) pada usaha kecil menengah dan koperasi di Kabupaten Jeneponto dapat di lihat pada Tabel 4.19 berikut ini:

Jika dilihat pada Tabel 4.19 di atas, tampak bahwa X4 (Keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi) memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja usaha non finansial cukup berarti yakni sebesar 11,68%, dengan pengaruh tidak langsung melalui X1= 2,953%, X2= 3,405%, X3= 2,934% maka variabel Keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi (X4) mencapai total pengaruh sebesar 20,97%, merupakan variabel yang paling besar tetapi bukanlah variabel yang mendominasi mempengaruhi kinerja usaha non finansial. Hal ini berarti bahwa kinerja usaha non finansial bagi usaha kecil menengah dan koperasi lebih besar dipengaruhi oleh aspek adanya keterkaitan manajemen pengelolaan usaha dan organisasi. Hal tersebut didukung oleh Hafsah (199:41) yang mengatakan dengan melakukan kemitraan usaha maka usaha kecil menengah dan koperasi dapat secara langsung maupun tidak langsung mempelajari taktik atau strategi berbagai sektor bisnis yang dapat dikembangkan bersama dengan perusahaan mitra.

Hal tersebut dapat menambah pengalaman dan keterampilan manajemen pengelolaan usaha dalam waktu singkat termasuk dalam hal penguatan kelembagaan dalam hal ini organisasi usaha kecil menengah dan koperasi.

Nama / NPM   : Prasetyo Nur Ichsan / 28211832

Kelas / Tahun  : 2EB09 / 2012

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s